Dosen MSPI UIN Sunan Kalijaga Ungkap Serat Centhini sebagai Ensiklopedia Kehidupan Masyarakat Jawa
Dosen MSPI UIN Sunan Kalijaga Ungkap Serat Centhini sebagai Ensiklopedia Kehidupan Masyarakat Jawa
Yogyakarta – Dosen Program Studi Magister Sejarah Peradaban Islam (MSPI) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Maharsi, M.Hum., mengungkap bahwa Serat Centhini merupakan salah satu manuskrip Jawa yang merekam secara rinci kehidupan masyarakat Jawa pada awal abad ke-19. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara bersama media Pandangan Jogja.
Menurut Prof. Maharsi, naskah yang ditulis pada awal abad ke-19 tersebut tidak hanya memuat kisah sastra, tetapi juga menjadi sumber penting untuk memahami sejarah sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Kajian terhadap manuskrip dilakukan melalui program digitalisasi naskah kuno yang melibatkan Museum Sonobudoyo, Keraton Yogyakarta, dan Universitas Leipzig.
Dalam penjelasannya, Prof. Maharsi menyebutkan bahwa Serat Centhini merekam beragam jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat Jawa pada masa itu. Mulai dari berbagai sayuran seperti kuluban, gudangan, serta umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat, hingga tempe yang telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat sebagai sumber protein fermentasi. Selain itu, minuman tradisional seperti beras kencur juga telah dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, Serat Centhini juga memuat informasi mengenai tradisi kecantikan, tata busana, hingga aturan penggunaan batik pada masa lampau. Prof. Maharsi menjelaskan bahwa penggunaan batik bermotif tertentu pada masa tersebut masih terbatas bagi kalangan bangsawan dan lingkungan keraton, yang menunjukkan adanya stratifikasi sosial dalam budaya berpakaian masyarakat Jawa.
Tidak hanya itu, manuskrip tersebut juga mendokumentasikan berbagai tradisi dan upacara adat masyarakat Jawa yang sebagian masih bertahan hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi tumben beteng, yang menggambarkan pentingnya ritual dalam setiap fase atau transisi kehidupan masyarakat Jawa. Catatan-catatan tersebut memperlihatkan bahwa Serat Centhini memiliki nilai historis yang tinggi sebagai sumber untuk merekonstruksi kebudayaan Jawa secara komprehensif.
Sebagai akademisi di Program Studi Magister Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Maharsi menegaskan bahwa manuskrip kuno seperti Serat Centhini memiliki peran strategis dalam penelitian sejarah dan pelestarian warisan budaya Nusantara. Digitalisasi serta kajian ilmiah terhadap naskah-naskah tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat dan generasi muda terhadap kekayaan intelektual serta identitas budaya Indonesia.
Sumber Disusun oleh: Tim Admin MSPI UIN Sunan Kalijaga dengan bantuan AI, Pandangan Jogja(wawancara dengan Prof. Maharsi).