Perkuat Ketahanan Nasional di Era Digital, MPR RI Gelar Sosialisasi Empat Pilar dan Literasi Digital di PP Al-Mahalli Bantul

Bantul, Yogyakarta, 24 Juni 2026. — Anggota MPR RI dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., kembali memperkuat wawasan kebangsaan masyarakat melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI 1945). Bertempat di Aula Pondok Pesantren Al-Mahalli Brajan, Bantul, Yogyakarta, acara ini diselenggarakan pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Mengusung tema krusial, seminar ini mengangkat tajuk “Literasi Digital dan Ketahanan Bangsa di Era Informasi: Menjaga Akal, Menjaga Iman, Menjaga Bangsa di Tengah Derasnya Arus Digital”.

Seminar ini menghadirkan para pakar terkemuka, di antaranya Dr. Imam Muhsin, M.Ag., yang merupakan dosen Sejarah Peradaban Islam (MSPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam acara tersebut, beliau memaparkan materi mendalam mengenai pentingnya literasi digital sebagai benteng ketahanan bangsa masa kini. Turut hadir pula Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag., serta Pengasuh PP. Al-Mahalli, Nyai Hj. Nadhiroh Mudjab Mahalli.

Dalam pemaparannya, Dr. Imam Muhsin, M.Ag menekankan bahwa di tengah era informasi dengan arus data yang tanpa filter, di mana tercatat lebih dari 167 juta pengguna internet di Indonesia, ketahanan bangsa tidak lagi hanya diukur dari kekuatan fisik atau ekonomi, melainkan juga ketahanan informasi dan kognitif masyarakat. Internet diibaratkan seperti gerbang pesantren yang terbuka bebas, sehingga mutlak memerlukan “satpam akal sehat” agar terhindar dari ancaman nyata seperti hoaks, ujaran kebencian, radikalisme online, hingga kecanduan digital.

Sebagai solusi praktis, para santri dan peserta dibekali dengan Empat Pilar Kompetensi Literasi Digital (kecakapan, etika/adab, keamanan, dan budaya digital) serta diperkenalkan metode SARING (Sumber jelas, Amati judul & isi, Ricek fakta, Ingat dampaknya, Niatkan untuk kebaikan, Gunakan akal sebelum jari) sebelum menyebarkan informasi apapun. Langkah ini selaras dengan prinsip Islam dalam konsep tabayyun sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat ayat 6.

Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu mengambil peran strategis sebagai “pasukan siber tanpa senjata” yang tidak hanya menjaga diri dan keluarga, tetapi juga menjadi penjernih informasi serta penjaga persatuan NKRI di dunia maya.