Menelusuri Jejak Makna Kebo Bule: Kajian Sejarah Budaya dalam Ujian Tesis Mahasiswa MSPI
Menelusuri Jejak Makna Kebo Bule: Kajian Sejarah Budaya dalam Ujian Tesis Mahasiswa MSPI
Yogyakarta – Simbol budaya tidak pernah benar-benar diam, bergerak mengikuti perubahan zaman, bernegosiasi dengan dinamika sosial, dan terus melahirkan makna baru. Gagasan tersebut menjadi tema ujian tesis Rofi Aji Nugroho, mahasiswa Program Studi Magister Sejarah Peradaban Islam (MSPI), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang diselenggarakan pada 19 Januari 2026.
Dalam sidang tesis tersebut, Rofi mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul "Pergeseran Makna dan Fungsi Pusaka Kebo Bule di Keraton Kasunanan Surakarta 1918–1972 M." yang di bimbing oleh Dr. Imam Muhsin, M.Ag.
Penelitian ini mengangkat salah satu ikon budaya Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Kebo Bule, yang selama ini dikenal sebagai bagian penting dari tradisi Malam 1 Suro. Melalui pendekatan sejarah dan antropologi budaya, penelitian tersebut menelusuri bagaimana Kebo Bule mengalami transformasi makna dari pusaka sakral yang berkaitan dengan legitimasi kekuasaan raja menjadi simbol budaya yang semakin dekat dengan masyarakat luas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi Kebo Bule tidak dapat dimaknai sebagai hilangnya nilai kesakralan. Sebaliknya, transformasi tersebut merupakan bentuk strategi adaptif Keraton Kasunanan Surakarta dalam menjaga keberlangsungan identitas simboliknya di tengah tekanan kolonialisme, modernisasi, serta perubahan hubungan antara institusi keraton dan masyarakat. Pada periode 1918–1972, Kebo Bule mengalami redefinisi dari simbol legitimasi internal kerajaan menjadi representasi identitas budaya kolektif masyarakat Surakarta, terutama melalui tradisi Kirab Malam 1 Suro yang terus lestari hingga saat ini.
Kajian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan studi sejarah budaya Islam di Indonesia, khususnya dalam memahami bagaimana simbol-simbol budaya Jawa tidak bersifat statis, melainkan mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar historis dan nilai kulturalnya. Penelitian tersebut juga memperkaya khazanah kajian mengenai hubungan antara tradisi, kekuasaan, dan identitas budaya dalam konteks perubahan zaman.
Program Studi Magister Sejarah Peradaban Islam terus mendorong lahirnya penelitian-penelitian yang tidak hanya mengkaji peristiwa masa lalu, tetapi juga mampu menjelaskan dinamika makna budaya yang masih hidup dan relevan bagi masyarakat masa kini.