Prof. Wildan Bawa Perspektif Pos-Islamisme di Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026

Yogyakarta— Semangat konsolidasi ilmu humaniora yang mengemuka dalam Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) turut diwarnai kontribusi akademisi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam forum yang melahirkan wadah baru bernama Guru Besar Humaniora Indonesia (GBHI) tersebut,Prof. Dr. Muhammad Wildan, Guru Besar sekaligus dosen Magister Sejarah Peradaban Islam (MSPI) FADIB UIN Sunan Kalijaga, mempresentasikan kajian berjudul"Negosiasi Agama dan Demokrasi: Spektrum Pos-Islamisme di Dunia Islam."

Dalam paparannya, Prof. Wildan menjelaskan bahwa relasi Islam dan politik telah mengalami dinamika signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Ia memaparkan bagaimana gerakan Islamisme yang menguat sejak akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 justru menunjukkan tren pelemahan dalam satu dekade terakhir, seiring semakin kuatnya demokrasi sebagai sistem politik di berbagai negara Muslim.

Menurut Prof. Wildan, proses demokratisasi di banyak negara Muslim telah mendorong transformasi dari Islamisme menujupos-Islamisme— sebuah pergeseran yang dipicu oleh kegagalan institusional dan tekanan sosial-politik pascaperistiwa Arab Spring. Ia mencontohkan tiga kasus yang merepresentasikan keragaman arah pos-Islamisme tersebut:Ennahdadi Tunisia,Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP)di Turki, danPartai Keadilan Sejahtera (PKS)di Indonesia.

"Pos-Islamisme tidak dapat dipahami sebagai model tunggal, melainkan sebagai spektrum respons terhadap perubahan struktur politik, sosial, dan kultural di dunia Islam," demikian inti argumentasi yang disampaikan Prof. Wildan dalam forum tersebut.

Melalui pendekatan komparatif dan perspektif humaniora, kajian ini menyoroti bagaimana negosiasi antara nilai-nilai agama dan tuntutan demokrasi menghasilkan konfigurasi politik yang beragam di berbagai negara Muslim. Prof. Wildan menegaskan bahwa pos-Islamisme bukan sekadar transformasi ideologis, melainkan juga arena kontestasi baru antara agama, negara, dan masyarakat dalam lanskap politik global kontemporer.

Kontribusi Prof. Wildan ini sejalan dengan semangat besar simposium yang digagas Dewan Guru Besar FIB UI — yakni memperkuat posisi tawar ilmu humaniora di tengah derasnya arus pengembangan STEM dan kecerdasan buatan (AI). Sebagaimana ditegaskan Guru Besar FIB UI, Prof. Cecep Eka Permana, kajian humaniora memiliki keunggulan fundamental dalam memahami manusia secara utuh — sisi yang tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi.

Kehadiran dan kontribusi keilmuan Prof. Wildan dalam forum nasional ini turut mengukuhkan posisiProgram Studi Magister Sejarah Peradaban Islam (MSPI) FADIB UIN Sunan Kalijagasebagai salah satu pusat kajian humaniora dan peradaban Islam yang aktif berkontribusi pada wacana akademik nasional.